Sepasang bulan redup mengitari pelangi.
Bergandengan menuju remang malam.
Awan perak dibalik rimba meruncing.
Peri kecil memainkan sayapnya.
Saat itu kita bertemu,disini.
Memadukan khayalan tentang sunset petang.
Kau pernah berkata padaku “ketinting kita terlalu kecil untuk menyeberang”
aku punya seribu puisi,sedang kau punya satu hati.
Tapi aku takluk padamu.
Karena siangmu yg benderang.
Dan akulah malam penyanjung misteri diatas pulau tukung.
Hampir saja hujan melarikan hembusan nafasku.
Sedang kita belum bertemu.
Balikpapan 31122011
Terimakasih sudah membaca artikel yg berjudul
Puisi "Tukung"
Selamat datang dan mari tangan berjabat,Salam ku ucap sebagai tanda hormat,Biar yg jauh bisa menjadi dekat,Saling mengenal kita sesama umat,Buanglah segala pemikiran yg jahat,Agar otak dan jiwa bisa selalu sehat,Dan pasti hidup pun menjadi nikmat
Facebook
-
Twitter
-
Google-Plus
-
Instagram
-
Email
Terimakasih sudah membaca artikel yg berjudul
Puisi "Tukung"
Selamat datang dan mari tangan berjabat,Salam ku ucap sebagai tanda hormat,Biar yg jauh bisa menjadi dekat,Saling mengenal kita sesama umat,Buanglah segala pemikiran yg jahat,Agar otak dan jiwa bisa selalu sehat,Dan pasti hidup pun menjadi nikmat
Facebook
-
Twitter
-
Google-Plus
-
Instagram
-
Email
No comments :
Post a Comment